Senin, 12 September 2022

MAKALAH SEJARAH PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM

 

SEJARAH

“PENGERTIAN, HIKMAH DAN PERKEMBANGAN DALAM ISLAM”

 

M A K A L A H

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu; Dr. Anwar Sanusi, M.Ag.

 

 

 

Berkas:IAIN Syekh Nurjati.jpg

 

 

Oleh;

1.     BUNG SODIK       

2.     MAMAT UBAIDILAH S.   

 

 

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )

SYEKH NURJATI CIREBON

                                                               TAHUN 2022                            

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang masih bisa memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah yang insya Allah bermanfaat di mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam” ini yang insya Allah akan sedikit gambaran mengenai materi yang akan kami sampaikan mengenai Pengertian sejarah, Hikmah dan Perkembangannya. Dalam penyusunan tugas makalah ini penulis mendapat berbagai hambatan-hambatan, akan tetapi atas bantuan Allah SWT dan bantuan dari berbagai pihak semua hambatan hambatan dapat kami atas. Oleh karena itu kami mengucapkan beribu terima kasih kepada semua pihak atas bantuan yang mereka berikan kepada kami.

            Kami berharap tugas makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah ilmu pengertahuan mengenai ilmu “Sejarah Peradaban Islam” serta bermanfaat bagi siapapun yang membaca tugas makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak sekali kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Oleh karena itu, kami mohon kritik serta saran yang membangun untuk dapat menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua Aamiin

 

 

 

Cirebon, 9 September 2022

 

 

Penyususn 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang

Kata sejarah sering diucapkan orang, baik di lingkungan pendidikan maupun di lingkungan pergaulan sehari-hari. Kita sering mendengar kata itu dalam ungkapan Biarlah sejarah yang membuktikan, kita harus belajar dari sejarah, sejarah adalah guru terbaik, kita harus bercermin pada sejarah, kemajuan suatu bangsa kini dan esok ditentukan sejarahnya, setiap manusia tidak bisa lepas dari sejarah, dan sejarah mengajarkan sesuatu bagi kehidupan manusia kini dan esok.

Oleh karena itu, belajar sejarah sangatlah urgen karena sejarah berkisah tentang eksistensi suatu masyarakat, baik pada tataran mikro maupun makro, yang salah satu factor kemajuannya ditentukan oleh latar belakang sejarah yang dilalui. Di samping itu, sejarah mempunyai fungsi sosial, yaitu memenuhi kebutuhan sosial karena sejarah terkait dengan rekaman  kehidupan sosial manusia pada masa lampau, baik secara individu maupun kolektif.

B.     Rumusan Masalah

1.     Bagaimana pengertian sejarah?

2.     Bagaimana hikmah sejarah dalam Al Quran?

3.     Bagaimana perekembangan sejarah peradaban Islam?

C.     Tujuan Pembahasan

1.     Untuk mengetahui bagaimana pengertian.

2.     Untuk mengetahui bagaimana hikmah sejarah dalam Al Quran.

3.     Untuk mengetahui bagaimana perkembangan Sejarah peradaban isl


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.  Pengertian Sejarah

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu syajarah yang berarti 'pohon' atau 'silsilah'. Masih dalam bahasa Arab, dikenal istilah syajarah al-nasab yang artinya 'pohon silsilah'. Adapun sejarah dalam Bahasa Inggris disebut history, sedangkan bahasa Latin dan bahasa Yunani menyebutnya histor atau istor yang berarti 'orang pandai'. Menurut para ahli seperti, Sidi Gazalba (1981: 1) dan Bertens (1987), sebagaimana dikutip oleh Hardiyono, secara historis penggunaan kata sejarah dalam bahasa Indonesia terjadi melalui bahasa Melayu yang berasal dari kata bahasa Arab, yaitu syajarah yang berarti 'pohon', 'silsilah', 'babad', 'tarikh', 'mitos', 'legenda', dan sebagainya.[1] Istilah sejarah sepadan dengan kata history yang berasal dari nomina bahasa Yunani, yaitu istoria yang bermakna 'ilmu'.  Aristoteles, filsuf Yunani menggunakan kata istoria yang berarti telaah sistematis tentang gejala alam, baik secara kronologis maupun tidak. Kata sejarah dalam bahasa Jerman disebut geschichte (sesuatu yang telah terjadi) yang berasal dari kata geschehen yang mempunyai arti terjadi.[2] Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian: (1). Kesusasteraan lama: silsilah, asal usul; (2). Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; (3). Ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau serta riwayat.[3]

 Dengan demikian, kata sejarah berarti sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau. Meskipun demikian, pengertian sejarah mengandung banyak konotasi. Misalnya, sejarah yang dikaitkan dengan peristiwa masa lampau disebut histoire-realite, sejarah yang dikaitkan dengan benda-benda peninggalan dari masa lampau adalah seperti patung, candi, keris, dan pedang; sejarah yang dikaitkan. Dengan demikian, kata sejarah berarti sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau, sejarah yang dengan penelitian digunakan ilmuwan sebagai suatu pendekatan yang Bernama history research; dan sejarah dipersepsikan sebagai hafalan yang membosankan mengenai tempat, tahun, pelaku, dan sebab akibat suatu peristiwa pada masa ampau.[4] dengan sisi lain, agar lebih mudah dimengerti, pengertian sejarah secara umum adalah suatu peristiwa umat manusia yang terjadi pada masa lampau. Peristiwa itu terkait dengan kehidupan manusia masa lampau dan peninggalannya adalah sejarah. Selanjutnya, dikemukakan pengertian sejarah secara terminologi dari para ahli. Sejarah dapat didefinisikan sebagai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada waktu, ruang, dan ras tertentu yang memiliki beberapa fungsi, yaitu :

1)    sebagai sumber informasi mengenai sesuatu yang pernah terjadi,

2)    sebagai ilmu yang menjelaskan fenomena kehidupan sepanjang perubahan yang terjadi karena interaksi manusia dengan masyarakat,

3)    sebagai ilmu yang menyelidiki fakta-fakta dalam waktu temporer mengenai perkembangan umat manusia,

4)    sebagai manifestasi dari pemikiran, dan

5)    sebagai operasional dari pemikiran. Sehubungan dengan itu, Shiddiqi mengutip pendapat para ahli yang memberikan definisi (batasan) sejarah sebagaimana berikut :[5]

a.     Ibnu Khaldun mengatakan, "Sejarah menunjuk kepada peristiwa-peristiwa istimewa atau penting pada waktu atau ras tertentu."

b.     Al-Maqrizi berpendapat, "Sejarah memberikan informasi tentang sesuatu yang pernah terjadi di dunia."

c.     W.Bauer (1928) memberi definisi, “Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang berikhtiar untuk melukiskan dan dengan penglihatan yang simpatik menjelaskan fenomena kehidupan sepanjang perubahan yang terjadi karena ada hubungan antara manusia dan masyarakatnya."

d.     E. Bernheim mendefinisikan, "Sejarah sebagai ilmu menyelidiki dan menceritakan fakta dalam waktu temporer dan berkaitan dengan perkembangan umat manusia dalam aktivitas mereka (baik individu maupun kolektif) sebagai makhluk sosial dalam hubungan sebab akibat.

Berdasarkan penjelasan dari para ahli, secara garis besar dapat dikatakan bahwa:

1)     sejarah adalah peristiwa masa lampau yang menimbulkan dampak bagi kehidupan umat manusia,

2)     sejarah adalah sumber informasi dari suatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau,

3)     sejarah mengandung ilmu pengetahuan yang mendeskripsikan fenomena kehidupan manusia dan menimbulkan perubahan,

4)     sejarah sebagai ilmu menguraikan fakta-fakta tentang perkembangan dan kemajuan manusia pada masa lampau,

5)     sejarah adalah perwujudan dari pemikiran tentang masa lalu, dan 6) sejarah adalah perkembangan pemikiran masa lalu.  

Apabila definisi (batasan) sejarah tersebut dikritisi dengan saksama, tampak sekali masing-masing ahli memberikan penekanan pada hal tertentu yang menunjukkan perbedaan sehingga tidak ditemukan definisi sejarah yang lengkap. Namun, mereka sepakat bahwa sejarah merupakan peristiwa masa lalu umat manusia. Oleh sebab itu, perlu dirumuskan definisi sejarah secara lengkap yang menggambarkan penekanan-penekanan tersebut sehingga menjadi "sejarah adalah suatu ilmu yang mempelajari rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada waktu dan bangsa tertentu dengan menyelidiki fakta-fakta akurat mengenai fenomena kehidupan manusia lampau yang mengalami perubahan (perkembangan dan kemajuan) karena ada interaksi antar manusia sebagai makhluk sosial yang menimbulkan sebab akibat sebagai perwujudan dari pemikiran intelektual dari orang tertentu mengenai kondisi sosial masyarakat untuk difungsikan menjadi iktibar bagi manusia kini dan esok serta untuk merencanakan masa depan yang lebih baik".

 Berbeda dari definisi-definisi tersebut, Kuntowidjoyo mengemukakan bahwa sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia. Pengertian ini mempunyai dua arti sekaligus, yaitu sejarah sebagai kisah dan sebagai peristiwa. Pertama, sejarah sebagai kisah adalah sejarah dalam pengertian secara objektif karena peristiwa masa lampau itu terjadi tanpa sepengetahuan manusia. Kedua, sejarah sebagai peristiwa merupakan sejarah dalam pengertian secara subjektif karena peristiwa masa lampau itu terjadi dengan sepengetahuan manusia.[6]

Kuntowidjoyo lebih lanjut menandaskan tentang definisi sejarah. Menurutnya, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu; apa yang direkonstruksikan sejarah sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami orang pada masa itu. Oleh karena itu, seorang sejarawan dapat menulis apa saja, asalkan memenuhi kualifikasi untuk disebut sejarah.[7] Di samping itu, ruang lingkup sejarah mencakup segala pengalaman manusia yang mendeskripsikan fakta mengenai apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana sebab akibat peristiwa tersebut terjadi.

Menurut Sardar (1986: 208), sejarah mempunyai dua konsep. Pertama, sejarah merupakan susunan rangkaian peristiwa masa lampau dan keseluruhan pengalaman manusia. Kedua, sebagai suatu metode memahami fakta-fakta untuk diselidiki, diubah-diubah, dijabarkan, dan dianalisis untuk mendapatkan pemahaman. Konsep pertama mengandung arti objektif karena masa lampau manusia harus dipahami sebagai peristiwa itu sendiri. Sementara itu, konsep kedua mengandung makna subjektif karena sudah menjadi kisah yang diceritakan oleh sejarawan berdasarkan pengalamannya dalam mendalami peristiwa tersebut.

Sejarah bisa berkedudukan sebagai ilmu karena berupaya mendeskripsikan pengetahuan tentang masa lampau masyarakat tertentu.[8] Sejarah sebagai ilmu memiliki metode ilmiah sehingga berjuta-juta fakta sejarah dapat dipastikan secara meyakinkan, baik bagi awam maupun ahli. Hal ini sama saja dengan fakta bahwa dua kali dua menjadi empat atau hidrogen dan oksigen yang dicampur dalam proporsi tertentu dan dalam kondisi tertentu dapat menjadi air. Fakta-fakta yang merupakan bahan mentah bagi sejarah diseleksi, disusun, dan dikisahkan untuk selanjutnya dijadikan buku.


B. Hikmah Sejarah dalam Al Quran

1. Ayat-ayat Tentang Sejarah dan Kisah

1.      Surat Thaha : 99

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

Artinya: “Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari berita-berita penting yang telah lalu, dan sesungguhnya telah kami berikan kepadamu dari sisi kami suatu peringatan (Al-Qur’an)”[9]

Mufrodat :

 Kisah :        نَقُصُّ

telah lalu :         سَبَقَ

cerita/ berita:        أَنۢبَآءِ

peringatan/pelajaran :        ذِكْرًا

Tafsir Ayat :

Kata  ( نَقُصُّ ) naqushshu terambil dari kata (نَقُصُّ ) qashshayang dari segi bahasa artinya mengkisahkan/menceritakan.Kisah adalah upaya mengikuti jejak peristiwa yang benar-benar terjadi atau imajinatif, sesuai dengan urutan kejadiannya dan dengan jalan menceritakannya satu episode atau episode demi episode. Kata ( ذِكْرًا ) dzikronyang berasal dari kata (ذِكْر ) pada ayat ini yang dimaksud adalah Al-Qur’an, karena memang Al-Qur’an adalah peringatan, sehingga Al-Qur’an dikenal pula dengan nama adz-Dzikr.

     Surat Ali Imron : 137

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: “ Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah; karena itu berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (pesan-pesan Allah)”.

Mufrodat :

  telah berlaku :       خَلَتْ

maka berjalanlah kamu :     فَسِيرُوا

                                          bumi:    ٱلْأَرْضِ

orang-orang yang mendustakan : ٱلْمُكَذِّبِينَ

Tafsir Ayat :

Ayat ini berisi tentang perintah untuk memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang terdahulu dan kesudahan mereka. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah,yakni hukum-hukum kemasyarakatan yang tidak mengalami perubahan. Sunnah tersebut antara lain adalah “yang melanggar perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya akan binasa, dan yang mengikuti-Nya akan berbahagia”. Yang menegakkan disiplin akan sukses. Hari-hari kekalahan dan kemenangan silih berganti dan lain-lain. Sunnah-sunnah itu ditetapkan Allah demi kemaslahatan manusia, dan itu semua dapat terlihat dengan jelas dalam sejarah dan peninggalan umat-umat terdahulu, melalui bacaan atau pelajaran sejarah, karna itu, berjalanlah kamu di bumiuntuk melihat bukti-buktinya dan perhatikanlah untuk mengabil pelajaran bagaimana kesudahanburuk yang dialami orang-orang yang mendustakanpesan-pesan Allah. Ini,yakni pesan-pesan yang dikandung oleh semua ayat-ayat yang lalu atau Al-Qur’an secara keseluruhan adalah peneranganyang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi seluruh manusia

3.      Surat Al- Isra’ : 77

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

Artinya: “(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul kami yang kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan dari ketetapan kami itu”.

Mufrodat :

Ketetapan  :         سُنَّةَ

Telah kami utus :      أَرْسَلْنَا

Kamu mendapatkan :         تَجِدُ

Perubahan             :     تَحْوِيلًا

Tafsir Ayat :

Istilah ( ٱللَّـهِ سُنَّةَ ) sunnatullah,dari segi bahasa terdiri dari kata  ( سُنَّةَ )sunnahdan (ٱللَّـه ) Allah.Kata ( سُنَّةَ )sunnahantara lain berarti kebiasaan. Sedangkan ( ٱللَّـهِ سُنَّةَ ) sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Dan apa yang dinamai hukum-hukum alam pun adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia. Para pakar merumuskan hukum-hukum alam itu sebagai kebiasaan yang dinyatakan Allah tidak beralih dan tidak pula berubah. Karena sifatnya demikian, maka ia dapat dinamai juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan atau ketetapan-ketetapan Allah terhadap situasi masyarakat.[3]

Asbabun Nuzul Ayat :

Pada suatu waktu kaum musyrikin berkata: “wahai Muhammad para Nabi itu bertempat tinggal disyam, mengapa kamu bertempat tinggal di madinah? Pada waktu itu Rasulullah saw hampir melaksanakan saran orang-orang musyrik, Allah swt menurunkan ayat ke 73-77 Al-Isra’ yang memberitahukan kepada Rasulullah tentang maksud jahat kaum musyrikin


BAB III
PENUTUP

 

A.    Kesimpulan.

Sejarah secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu Syajarotun yang bermakna pohon atau silsilah, sedangkan dalam bahasa inggris biasa disebut histori. Sedangkan secara istilah dengan ini kami mengambil pendapat Pak Suyuthi Pulungan bahwa sejarah adalah kisah-kisah atau kejadian yang terjadi pada masa lampau untuk dijadikan kesusastraan lama, membenarkan kejadian terdahulu, dan ilmu pengetahuan.

Hikmah sejara

B.     Saran.

Dalam karya ini, penulis sadari masih banyak kekurangannya yang bersifat ilmu pengetahuan, dan penulis juga sangat menyadari bahwa dalam penulisan karya ini masih menyisakan banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, sebagai penulis kami mohon kerendahan hati dari para pembaca untuk memaklumi kekurangannya dan diharapkan kesediaanya untuk memberikan kritik yang bersifat konstruktif untuk mejadi bahan evaluasi bagi penulis agar di kemudian hari dapat menulis dengan lebih sempurna.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdul Rozak, Anwar ,Rosihan. 2009. Ilmu Kalam, cet.iv, Bandung : CV. PustakaSetia

Al Syahrastani, Al Milal wa Al Nihal, Beirut : Dar al Fikr

Departeman Agama RI. 1971. Al-qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah Qur’an

Sharif (ed). 2004. Aliran-aliran Filsafat Islam. Bandung : Nuansa Cendekia

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press.

Nasution, Harun, 1986, Teologi Islam Aliran -Aliran Sejarah Analis Perbandingan, Jakarta: UI Press.

Nasir Ahmad,  Sahilun.2010. Pemikiran Kalam(teologi islam). Jakarta:Rajawali pers.

Nasir Ahmad,  Sahilun.2010. Pemikiran Kalam(teologi islam). Jakarta:Rajawali pers.

Madkour, Ibrahim. 2009. Aliran dan Teori Filsafat Islam, penterjemah : Yudian Wahyudi Asmin, Jakarta : PT. Bumi Aksara

Sudarsono. 2004. Filsafat Islam. Jakarta : PT Rineka Cipta.

 



 

 

 

 

 

 



[1] J. Suyuthi Pulungan, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, (Jakarta: Amzah, 2019), 7-8

[2] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, diterjemahkan Nugroho Notosusanto, (Jakarta: Yayasan Penerbit Unversitas Indonesia), 27

[3] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1952), 646.

 

[4] J. Suyuthi Pulungan, Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, (Jakarta: Amzah, 2019), 9

[5] Nourouzzaman Shiddiqi, Pengantar Sejarah Muslim, (Yogyakarta: Cakra Donya, 1981), 7-8

[6] Kuntowidjoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 1995), 2-3

[7] Kuntowidjoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 17

[8] Sidi Gazalba, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu, (Jakarta: Bharata Karya Aksara, 1981), 2

[9] Al Quran Kementrian Agama

Label: