Rabu, 16 Maret 2016

Cerpen DI PENGHUJUNG RAMADHAN



DI PENGHUJUNG RAMADHAN
Ayu Rahayu Ningsih

Bulan ramadhan kali ini aku rasa berbeda dari bulan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Bulan ramadhan yang sudah-sudah biasanya aku hanya bertadarus dan shalat di rumah, tetapi ramadhan tahun ini aku merasa ada peningkatan dari sebelumnya, sekarang aku lebih sering shalat dan bertadarus di masjid. Aku sangat termotivasi melihat temanku Uus, sosok pria yang soleh, sederhana dan rajin beribadah, maka dari itu aku ingin memperbaiki diri supaya lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sore ini setelah shalat ashar, aku dan anak-anak remaja masjid lainnya bertadarus seperti biasa dan Uus yang memimpin tadarusnya. Mengingat besok adalah penghujung bulan ramadhan, aku mengusulkan untuk mengadakan buka puasa bersama di masjid. “Uus, gimana kalau besok kita adain buka puasa bersama?”, usulku setelah selesai bertadarus. “Boleh juga tuh, tinggal diatur aja sama Ayu”, jawabnya. “Oke deh, yang lainnya setuju enggak?”, tanyaku pada yang lainnya. “Setuju!..”, sahut mereka bersamaan.

Keesokan harinya aku dan Uus pergi ke rumah makan langgananku untuk memesan makanan untuk berbuka puasa, namun sayangnya rumah makan itu tutup jadi aku dan Uus memutuskan untuk memesan sate ayam saja.

Sesampainya di rumah, aku langsung mempersiapkan semua keperluan untuk berbuka puasa nanti sore. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Aku mulai membawa makanan-makanan ke masjid. “Allahu Akbar Allahu Akbar..” suara adzan telah berkumandang. Anak-anak membatalkan puasanya dengan memakan kurma dan meminum es kelapa muda. Setelah itu mereka shalat maghrib terlebih dahulu, sementara aku menyiapkan makanannya karena aku berhalangan puasa. Setelah selesai shalat, mereka kembali lagi keluar untuk makan. Mereka makan dengan lahapnya, termasuk Uus. “Mau nambah lagi, Us? Laper apa doyan?”, ledekku bercanda ketika melihat dia hendak mengambil nasi lagi ke piringnya. “Laper, Yu. Hehe”, jawabnya cengengesan. Setelah selesai makan, aku dan anak-anak yang lainnya menjaili Uus dengan menaruh tusuk sate di piring bekas makan Uus.  “Teman-teman, lihat Uus makan satenya paling banyak!”, ledekku lagi. “Hahaha…”, semuanya tertawa. “Bohong bohong, jangan percaya!”, elaknya.

Alhamdulillah acara buka puasa bersama ini berjalan dengan lancar. “Terima kasih ya, Us. Selama sebulan ini kamu udah mau ngajarin kita untuk belajar ngaji dan gak terasa Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata”, tuturku. “Iya sama-sama, Yu. Waktu memang berjalan cepat, semoga di tahun-tahun yang akan datang bisa seperti ini lagi ya”, katanya. “Iya, Us. Amin. Ngomong-ngomong.. minal adizin wal’faidzin ya, Us. Maaf kalau selama ini Ayu banyak salah-salah kata atau perbuatan yang kurang berkenan”, ucapku sedikit gugup. “Iya, Yu. Minal adizin wal’faidzin juga ya”, jawabnya.
Bulan ramadhan kali ini sungguh berkesan bagiku, terlebih lagi ada Uus yang selalu memberi motivasi kepadaku dan anak-anak yang lainnya. Aku semakin kagum saja padanya, hehe. Aku berharap tahun depan dan seterusnya bisa seperti ini lagi, amin.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda